Tampilkan postingan dengan label Legenda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Legenda. Tampilkan semua postingan

Kamis, 26 Januari 2006

LEGENDA BAWANG PUTIH BAWANG MERAH

LEGENDA BAWANG PUTIH BAWANG MERAH-- Bawang Mungkin Banyak cerita legenda dengan nama itu. Dan kali ini Saya tulis Cerita Rakyat Yang berkembang di Karanganyar, Tawangmangu Khususnya dan lebih Spesifik Lagi Cerita Legenda Terjadinya Bawang Di Desa Blumbang dan Pancot tentang Legenda Terjadinya Bawang Yang mana Bawang Putih pernah berjaya Sebagai tanaman yang mengangkat kesejahteraan Petani Bawang Tawangmangu Dahulu.


Dari cerita legenda itu membuktikan Bahwa ada Tanaman Bawang Lokal Asli Tawangmangu, Yang dahulu tercipta dari Siung atau gigi taring Buto atau Raksasa Jahat Yang dibunuh Raden Gatotkaca Seorang Prajurit Sakti Yang Berkasatrian Atau Barak Di Pringondani. Pringondani Ada di Gunung Lawu Di Utara Desa Blumbang Pancot itu.

Kisah ini hanya cerita legenda walau Sampai kini Benda benda dalam cerita legenda itu masih ada namun tetap saja tidak bisa membuktikan kebenaran nya. Jadi sekali lagi ini hanya cerita legenda dan tidak bisa di percayai kebenarannya dan tiadalah elok membahas percaya dan tidak percaya tentangnya dan cukuplah di nikmati sebagai dongeng cerita legenda saja.

Bagaimana bisa Bawang berasal dari siung atau gigi raksasa dan apa hubungannya dengan Raden Gatutkaca Begini ceritanya:

Pada zaman dahulu kala Desa Blumbang Dan Pancot, Tawangmangu Di Ganggu dan di kuasai Buto atau Raksasa Jahat yang Bernama Pancatnyono. Manunso Buto atau Raksasa Pancatnyono ini Selalu Minta Dituruti Apa saja Kemauannya dan apabila Penduduk di dua desa itu tidak bisa memenuhinya maka Raksasa itu mengamuk dengan mengobrak abrik desa dan membunuh serta memangsa penduduk Dua desa
Blumbang dan Pancot Di Tawangmangu itu.

Dari keganasan Raksasa itu maka Penduduk Desa Blumbang dan Pancot akhirnya Berembuk Tentang musibah yang dialami dengan di ganggunya kedua desa itu oleh Makhluk Buto atau Raksasa. Maka Pemuka kedua desa Bertanya Kepada Pancatnyono Si Manungso Buto Atau Raksasa jahat, Apa maunya Sehingga Desa mereka Aman dan Tidak diganggu-nya.

Pancatnyono Manunso Buto atau Raksasa itu Bersedia untuk tidak mengganggu Kedua Desa itu asalkan Selalu disediakan Makanan untuknya dan Setiap Tahun  penduduk desa harus Mempersembahkan seorang Gadis belia untuk dimangsanya. Apabila penduduk desa tidak bersedia maka setiap saat Buto atau Raksasa itu akan selalu Meng obrak-abrik desa dan Memangsa siapa saja yang ditemuinya.

Dari permintaan Manungso Buto atau Raksasa itu Maka bermusyawarahlah penduduk Desa Blumbang dan Pancot. Kalau menyediakan makanan untuk Raksasa itu, Penduduk desa bisa Mengusahakannya namun untuk mempersembahkan gadis belia tiap Tahun untuk dimangsa Boto atau Raksasa tentu saja tak satu-pun orang tua yang rela. Namun apabila tidak menuruti itu maka celakalah semua Penduduk Kedua desa itu dan Semua akan Dimangsa Raksasa itu Satu persatu. Maka dari itu sepakatlah penduduk desa itu utnuk Bergilir Tiap tahun-nya Satu Keluarga Menyerahkan anak gadis Yang masih Perawan dan muda belia guna di persembahkan dan di mangsa Pancatnyono Manunso Buto atau Raksasa Jahat itu.

Begitulah akhirnya Penduduk desa selalu Menyediakan makanan untuk Manungso Buto alias Raksasa Jahat dan tiap tahun bergilir Satu keluarga Merelakan anak gadisnya Dimangsa Raksasa. Hal itu Berlangsung sekian lama Sehingga Desa pun Aman dan makmur makmur saja walau harus dibayar dengan kepiluan dengan dimangsanya satu gadis belia tiap tahun oleh Raksasa.

Hingga Tiba Suatu ketika Giliran seorang janda Tua yang hanya memiliki anak perempuan satu-satu nya namun harus menyerahkan anaknya itu untuk dimangsa Raksasa sebagai tumbal keamanan dan kemakmuran Desa. Janda tua itu sangat sedih dan pilu hatinya dan tidak bisa berbuat apa-apa. Karena kesedihan-nya sampai-sampai Setiap malam selama tujuh malam berturut-turut tiada henti Janda tua yang hanya punya anak gadis cantik satu satunya itu menangis sepanjang malam.

Hingga suatu ketika tangis-nya didengar Raden Gatutkaca yang Kebetulan Terbang diatas desa Blumbang, lalu ditanya kenapa Janda itu sampai menangis tiada heneti-henti. Janda itu pun menjelaskan kepiluan hati yang dihadapinya karena harus menyerahkan putri tunggalnya yang cantik untuk di jadikan tumbal kemakmuran desa.

Mendengar penjelasan Janda itu Raden Gatutkaca Menyesal Tidak mengetahui kalau desa yang di bawah Naungannya ternyata dikuasai Raksasa jahat yang mengerogoti ketenteraman dan kemakmuran desa. Maka Raden Gatutkaca berpesan Pada janda tua tidak usah khawatir akan anaknya bila sudah sampai saatnya Raden Gatutkaca lah yang bakal menggantikannya.

Tiba waktu untuk menyerahkan Tumbal seorang gadis perawan untuk dimakan Raksasa dan Raden Gatutkaca membo-membo atau menjelma menjadi gadis perawan muda yang serupa dengan anak janda tua itu, lalu Janda itu pun menyerahkan Raden Gatutkaca yang telah berubah wujud menjadi anaknya.

Setelah menyerahkan dan di terima, tiba waktu Raksasa jahat memuaskan hasrat dan nafsu memangsa manusia yang berupa gadis perawan muda belia yang dipersembahkan padanya. Namun saat akan menggigit dan memakan gadis itu, tiba tiba berubah wujud gadis itu ke wujud asli yang sebenarnya adalah Raden Gatutkaca. Raksasa Jahat disuruh untuk menghentikan perbuatannya mengganggu Kedua Desa itu Namun Raksasa itu tidak mau dan malah Mengajak bertarung sampai mati adu kesaktian dengan Raden Gatutkaca karena telah mengganggu Kesenangannya dan Pemuasan Nafsunya Memangsa Manusia.

Terjadilah Pertarungan diantara Raksasa Jahat dengan Raden Gatutkaca hinga ahirnya Rambut gimbal raksasa itu Terpegang oleh Raden Gatutkaca lalu ditarik dan dibenturkan kepalanya pada batu gilang sehingga pecah-lah kepalanya. Raksasa itu Tewas karana benturan kepala dengan batu gilang yang menyebabkan otaknya terpelanting jauh sampai desa Dawung dan mengeras hingag menjadi Gunung Gamping atau Bukit batu kapur yang merupakan satu satunya Gunung Gamping atau bukit batu kapur yang ada di Tawangmangu.

Sedangkan Siung atau gigi taring dan semua gigi giginya berserakan di dua Desa Blumbang Dan Pancot. Lalu Raden Gatutkaca Memerintahkan agar Siung atau taring yang putih putih rontok tidak ternoda darah dan gigi gigi yang rontok yang berwarna merah oleh noda darah Raksasa jahat itu untuk ditanam Warga Desa itu dan kelak dengan siung itulah yang akan memakmurkan desa itu.

Ditanamlah oleh warga desa Siung atau Gigi Taring Raksasa yang putih bersih dan dari Siung itu tumbuh sebuah tanaman yang berupa Tanaman bawang yang berwarna putih bersih dan dinamakan bawang putih, Sedangkan Gigi-Gigi yang berwarna merah karena noda darah ditanam dan akhirnya tumbuh juga tanaman bawang yang bijinya berwarna merah seperti darah yang diberi Nama Brambang atu Bawang merah.

Dengan menanam tanaman Bawang yang berasal dari Siung dan gigi raksasa itulah yang membawa kemakmuran Penduduk Dua desa itu juga desa desa sekitarnya ikut juga menanam tanaman itu yang membawa kesejahteraan Penduduk Tawangmangu.

Begitulah Cerita legenda terjadinya Tanaman Bawang Merah Dan Bawang Putih Yang Berkembang Di Kabupaten Karanganyar, Tawangmangu Khususnya dan lebih spesifik lagi legenda yang terjadi di Desa Blumbang Dan Pancot. Bukti dari legenda itu yang masih dikenang dan di pundi pundi penduduk desa itu sampai sampai saat ini adalah Pringgondani yang merupakan kasatrian Raden Gatutkaca yang berada di Hutan Gunung lawu di utara dua desa itu dan Watu gilang tempat Raden Gatut kaca membenturkan kepala Raksasa jahat pengganggu desa dan otaknya jadi Gunung Gamping atau bukit batu Kapur yang Berada De desa Ndawung Atau Mbandar Ndawung.

Hitungan satuan Bawang juga namanya siung bawang, karena memang bentuk bawang seperti siung dan kejadiannya berasal dari siung menurut versi cerita rakyat Leegenda Terjadinya Bawang Putih dan Bawang Merah.

Rabu, 25 Januari 2006

GATOTKACA

GATOTKACA SATRIA PRINGGONDANI OTOT KAWAT BALONG WESI KRINGETE WEDANG KOPI-- Kali ini akan dikisahkan salah satu kisah legenda cerita rakyat di Tawangmangu di utara desa blumbang pancot di gunung Lawu yang terdapat tempat yang bernama PRINGGONDANI yang konon merupakan KESATRIAN atau mes/barak keprajuritan dari GATOTKACA.

Ada banyak versi cerita dari kisah GATOTKACA yang ada, mulai versi asli di yang merupakan bagian kisah yang ada di kitab Mahabarata dan versi-versi lain seperti di kisah pewayangan jawa dan sebagainya. Bahasan kali ini adalah kisah legenda GATOTKACA yang ada di PRINGONDANI di Gunung Lawu Tepatnya di utara desa Blumbang Pancot Kecamatan Tawangmangu.

Cerita ini saya dapati dati pengajar favorit saya yang bernama Bp. Hadi Sumarsum Saat saya menempuh pendidikan S1 di UNP II Matesih, Karanganyar. Beliau sangat digemari murid-muridnya dengan gaya mengajar yang bersahaja dan kadang dibubuhi dengan cerita cerita yang walau kadang terkesan lebay namun tetap mengena untuk membentuk karakter dari anak-anak didiknya. Baiklah langsung pada inti cerita:

GATOTKACA
Gatotkaca adalah makluk Hibrida Hasil Kawin Silang Manungso Karo Buto atau dari Ras Manusia dengan Raksasa. Ayah GATOTKACA adalah Werkudoro alias Brotoseno atau Bima yang merupakan saudara tertua dari lima bersaudara keluarga Pandawa, Sedang Ibu GATOTKACA adalah dari golongan Buto atau Bangsa raksasa Yang Bernama Arimbi. Walaupun berasal dari Golongane Buto atau Bangsa raksasa Yang Pada umumnya jahat dan suka memangsa Manusia Namun Arimbi Adalah Satu Diantara Raksasa Yang Baik Hatinya dan Mulia yang di perbuatan-nya.

Saat lahirnya Raden GATOTKACA tali pusar yang menghubungkan Jabang Bayi Dengan Ari-ari yang merupakan cadangan Makanan saat di rahim Ibu, Tidak dapat di putus walaupun telah digunakan berbagai macam senjata sakti mandraguan namun belum juga dapat memisahkan ari-ari dengan si Jabang Bayi.

Melihat Kejadian itu Adik Dari Werkudoro Alias Brotoseno Nama lain Dari Bima ayah Si Jabang bayi Yang bernama Arjuna alias Raden Permadi yang ketampanannya tidak jauh berbeda, sebelas duabelas dengan Admin Blog ini, Merasa ibalah Dia akan kejadian Yang menimpa Keponakan-nya.

Karena keprihatinan Raden Permadi akan kejadian yang menimpa keponakannya maka pergilah Dia bertapa untuk mendapatkan wangsit/arahan dari sang Dewa. Setelah sekian lama Bertapa akhirnya Para Dewa-pun Bermusyawarah hingga Dewa Narada Dewa Indra ( BukanDewa Bujana apalagi Dewa19) Sapakat memberikan Senjata Kunta Kepada Arjuna Alias Raden Permadi yang secakep admin Blog ini. Senjata Kunta di berikan untuk Digunakan memotong tali pusar keponakan-nya. Maka diutus-lah seorang kurir, Dengan bantuan kurir dikirim-lah Senjata Kunta Pada Arjuna alias Raden Permadi. Namun pada saat itu Adipati Karna Juga sedang Bertapa sehingga kiriman Senjata Kunta Salah alamat Tidak sampai Pada Arjuna melainkan Malah Diterima Adipati Karna.

Setelah sang Kurir melapor dengan membawa bukti terkirimnya Senjata Kunta maka kagetlah Batara Narada Dan Batara Indra (Bukan Indra Lesmana apalagi Indra Birowo), dan Diutus Kembali Kurir tadi menyampaikan pesan kepada Raden Permadi tentang tugas tambahan-nya meminta Senjata Kunta kepada adipati Karna apa-pun caranya.

Pergilah Arjuna alias Raden Permadi Yang Sedikit lebih tampan dari admin Blog ini ke tempat Adipati Karna. Dimintalah senjata Kunta Kepadanya, Namun Adipati Karna merasa juga berhak memiliki senjata Kunta karena Dia juga bertapa untuk mendapatkan senjata sakti mandraguna sehingga Adipati Karna menolak memberikannya dan terjadilah perkelahian antara Arjuna Dan Karna untuk memperebutkan senjata Kunta. Setelah perkelahian sekian lama, Arjuna gagal merebut Senjata Kunta dari adipati Karna dan hanya mendapatkan warangka atau sarungnya saja.

Degan hanya membawa warangka atau sarung senjata Kunta Arjuna melapor pada Batara Indara akan kegagalannya merebut senjata Kunta dan hanya berhasil merebut warangka atau sarungnya saja. Atas petunjuk Betara Narada warangka Senjata Kunta bisa digunakan untuk memotong Tali pusar Jabang Bayi Raden GATOTKACA namun sebagai konsekuensi-nya Jika senjata Kunta dilepaskan maka akan langsung menghujam tubuh keponakan-nya  itu. Setelah mendapatkan pengarahan itu pergilah Arjuna alias Raden Permadi Yang sedikit lebih tampan dari admin blog ini Ke-tempat lahirnya Tetuka yang merupakan Jabang Bayi Raden GATOTKACA dengan membawa warangka atau sarung Senjata Kunta. Setelah Bermusyawarah dengan Ayah, Ibu, dan semua Yang berkepentingan dengan bisa di-putus-nya Pusar Tetuka Jabang Bayi Raden GATOTKACA dengan warangka Senjata Kunta Beserta Konsekuensi-nya, maka sepakat Mereka untuk memotong Tali pusar Tetuka dengan warangka Senjata Kunta.

Werkudara alias Bima memotong tali pusar anaknya dengan warangka senjata Kunta dan ter-putus-lah tali pusarnya Tetuka Jabang Bayi Raden Gatotkaca namun warangka itu hilang menyatu dengan tubuh Tetuka Jabang bayi Raden GATOTKACA.

Setelah tali pusar tepotong Jabang Bayi Raden GATOTKACA dipinjam Betara narada untuk menghentikan kerusuhan masa yang saat itu terjadi di KHAYANGAN JUNDRINGSALOKA tempat para dewa berada. Dibawalah Jabang Bayi Raden GATOTKACA Ke kayangan, Sebelumnya Jabang Bayi dimasukan ke Kawah Candra Dimuka lalu Di Krocok/dibrondong dengan berbagai macam senjata lalu keluarlah seorang pemuda ganteng namun juga seram karena Dia adalah hibrida atau persilangan antara manungso Karo Buto atau Manusia dengan Raksasa.

Sekeluar dari kawah candra dimuka lansung membasmi kerusuhan yang ada di Khayangan Jundringsaloka sehingga Khayangan kembali aman seperti sediakala. setelah berhasil membasmi kerusuhan dengan kekuatannya yang luar biasa maka di perbaiki penampilan GATOTKACA dengan di pangur/dipotong gigi taring yang biasa ada pada basa Buto atau Raksasa dan di didik dan dihilangkan semua prilaku Buto atau Raksasa yang suka menggigit dan memangsa manusia.

Selesei di perbaiki penampilan dan dididik Dengan Ditatar Pedoman Penghayatan Dan Pengamalan Pancasila Si Tetuko yang telah Tumbuh menjadi Kesatria Tampan Sakti mandraguna di kembalikan ke Kesatrian Pringondani untuk memperkuat Korpsnya.

Yang diceritakan Bp Hadi Sumarsum GTUTKACA juga mempunyai Kotang PoncaSeno. Mendengar kata Kotang Sontak Sekelas Ger... (Pikiran kotor keloar dari murid-murid kayaknya termasuk saya) Dijelaskan Jangan  berpikir macam-macam memang itulah namanya tak usah heboh dengannya dan di jelaskan bahwa Kotang poncoseno memiliki lima kesaktian:
Iso meletik tanpo Cutang
Iso mabur tanpo Sewiwi
Udan ora Kodanan
Panas Ora Kepanasen
Ora Tedas Tapak Paluneng Pande Sisaneng Grindho.

Yang kira-kira artinya
Bisa melating bak Belalang walau tanpa Kaki Belakang Yang Panjang
Bisa Terbang walau Tanpa Sayap
Hujan Tidak basah
Panas Tidak Kepanasan
Tidak Akan Terluka Akan Bacokan Senjata tajam apa-pun.

Di Tawangmangu legenda GTUTKACA SATRIA PRINGONDANI Banyak Sekali Melahirkan kisah-kisah yang sampai sekarang masih diyakini dan dikenang. Salah satun-nya Watu/Batu Gilang yang berada di pasar Desa Blumbang Tawangmangu yang konon merupakan tempat mengalahkan Raksasa jahat yang mengangu Desa Mblumbang dan Pancot yang menjadi legenda Tepat Pertarungan Raden GATOTKACA dengan Raksasa Jahat Pancatnyono yang juga menjadi legenda kejadian Bawang Tawangmangu dan GUNUNG GAMPIG/Bukit Batu Kapur yang berada di desa Dawung Tawangmangu.

GROJOKAN SEWU adah Padusan atau Tempat Mandi Raden GATOTKACA Kini telah menjadi Tradisi Padusan Setiap menjelang bulan RAmadhon yang mana Grojogaan Sewu di banjiri Orang-orang untuk mandi di-situ, Hal itu sebenarnya Berawal dari cerita rakyat turun temurun yang konon Di grojogan Sewu itulah Padusan atau tempat pemandian Raden GATOTKACA.

Demikian cerita rakyat dari Tawangmangu di Gunung Lawu yang terdapat tempat yang bernama Pringondani yang merupakan Kesatrian atau mes/barak keprajuritan Gatotkaca semoga saja anda menikmati-nya dan jika masih ada waktu silahkan baca juga posting-posting lain dibawah posting Raden Gatot Kaca Satriya Pringgondani Otot Kawat Balong Wesi.

Rabu, 11 Januari 2006

BAWANG TAWANGMANGU

BAWANG TAWANGMANGU SEPERTINYA KINI HILANG RIWAYATMU DAN HANYA DIKENANG ORANG-ORANG TERTENTU-- Begitulah nasib Tawangmangu yang dahulu pernah menjadi sentra produksi Bawang. Sepertinya Saat ini Orang Telah lupa bahwa ada Bawang yang Menurut cerita Legenda Bawang asli berasal dari tawangmangu. Cerita asal usul bawang masih berkaitan keberadaan Raden Gatot Kaca Satria Pringgondani yang berada di Gunung Lawu di utara Desa Blumbang Pancot Tawangmangu.


Dahulu Tawangmangu Berkat Tanaman Bawang pernah Membawa Masyarkatnya Makmur sejahtera. Lahan lahan di Tawangmangu saat itu sangat produktif untuk budidaya tanaman bawang, tak ada secuil lahan yang tesia-siakan karena harga bawang saat itu sangat menjanjikan keuntungan yang sangat besar. Halaman setiap rumah warga Tawangmangu Saat itu tak tersisa sedikit jua, hanya disisakan jalan setapak sebagai masuknya sepeda ke-dalam rumah selebihnya full tanaman bawang semua.

Di daerah lain saat itu dari penduduk satu Desa yang punya sepeda motor paling baru satu dua sedang masyarakat Tawangmangu yang daerahnya menjadi sentra budidaya bawang Saat itu Satu rumah sudah mampu memiliki sepeda motor dua atau tiga, karena berlimpah-nya produksi di-sana dan harga Bawang Saat itu Sungguh Sangat Menjanjikan keuntungan yang luar biasa bagi para petani yang membudidayakan bawang Saat itu.

Namun saat ini hal itu sepertinya hanya menjadi sudah cerita masa lalu belaka, Sepertinya sekarang tak seorang-pun petani di Tawangmangu yang masih menanam bawang, mungkin bawang asli Tawangmangu yang terdapat cerita legenda Asal Muasal Bawang kini telah punah. Lahan Pertanian Tawangmangu yang dahulunya lahan produktif sebagai lahan tanaman bawang sekarang sudah tidak lagi, sekarang petani di sana tidak lagi menanam Bawang, paling hanya menanam daun bawang yang biasa disebut Loncang.

Banyak faktor yang menyebabkan petani di Tawangmangu tidak lagi menanam bawang terutama harga bawang saat ini sudah tidak menjanjikan sebagaimana dahulu lagi. Setelah harga bawang tak menjanjikan keuntungan bagi petani bahkan sering kali petani merugi karena tidak sebanding biaya perawatan dengan harga jual-nya, sehingga petani di sana sudah tidak lagi menanam bawang dan beralih ke tanaman sayur lainnya.

Kesuburan tanah sudah sangat berkurang sekali sepertinya. Waktu akhir-akhir hingga tiada petani di Tawangmangu yang menanam Bawang, hasil Bawang cenderung memburuk dari waktu ke-waktu kemungkinan karena semakin buruknya kualitas tanah di Tawangmangu karena banyaknya menggunakan pupuk kimia yang menggerus kesuburan alami tanah di sana
Saat ini Petani Tawangmangu tidak menanam bawang lagi dan kebanyakan hanya menanam loncang atau Bawang Daun yang perawatan-nya tidak seberapa menghabiskan biaya dan lebih menguntungkan dari pada menanam bawang Putih maupun Bawang merah.

Begitulah Kisah Bawang Tawangmangu Yang Pernah Berjaya Sebagai Salah Satu Sentra Budidaya Bawang Yang Riwayatnya sebagaimana tanaman tanaman yang dahulu pernah Buming dan Mensejahterakan masyarakat Tawangmangu Seperti Mawar Jambe juga Antorium yang saat di puncak Kejayaannya diwarnai kisah tragis atau tragedi yang memilukan hati.

Bawang dan Mawar Jambe Kejayaannya Redup Setelah Tragedi Dibunuhnya pencuri yang mencuri kedua tanaman itu, Sedang Bunga Antorium Redup setelah Tragedi Bencana Tanah Longsor di Desa Mogol yang Telah Ganti Nama jadi Desa LedokSari yang Banyak memakan korban jiwa yang terjadi beberapa tahun silam.